KRAKSAAN, 30 Oktober 2026 — Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) telah menghadirkan perubahan besar dalam dunia pendidikan. Teknologi ini membuka peluang untuk memperluas akses pengetahuan, meningkatkan efektivitas pembelajaran, serta membantu tenaga pendidik mengembangkan metode pengajaran yang lebih adaptif. Namun, di balik berbagai kemudahan tersebut, muncul pertanyaan mendasar: siapa yang akan memastikan bahwa kemajuan teknologi tetap berpihak pada kepentingan peserta didik dan nilai-nilai kemanusiaan?

Pertanyaan inilah yang menjadi salah satu perhatian PELITA NUSANTARA dalam menyongsong era transformasi digital. Menjelang peluncuran website resminya pada Sabtu, 31 Oktober 2026, organisasi ini menegaskan komitmennya untuk tidak sekadar mengikuti perkembangan teknologi, tetapi juga mengambil bagian dalam mengkaji arah kebijakan dan dampaknya terhadap masa depan pendidikan, khususnya pendidikan Islam.

Ketua PELITA NUSANTARA, Gus Muhammad Rijal Mahfudh, menegaskan bahwa kesiapan menghadapi perkembangan teknologi harus dibangun melalui penguatan kapasitas kader, tradisi intelektual, serta keberanian organisasi untuk membaca perubahan zaman secara kritis.

Menurutnya, pendidikan Islam menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Di satu sisi, lembaga pendidikan dituntut mampu beradaptasi dengan kemajuan teknologi. Di sisi lain, pendidikan Islam memiliki tanggung jawab mendasar untuk membentuk manusia yang berilmu, berakhlak, memiliki daya kritis, dan tidak kehilangan orientasi moral di tengah derasnya arus digitalisasi.

“Kita tidak boleh membiarkan pendidikan Islam hanya menjadi konsumen teknologi, apalagi sekadar menjadi penonton ketika arah pendidikan mulai dibentuk oleh algoritma dan kecerdasan buatan. Kita harus hadir sebagai subjek yang mampu memahami, mengkritisi, dan mengarahkan pemanfaatan teknologi agar tetap berpihak pada manusia, nilai-nilai keislaman, dan masa depan generasi bangsa.” Demikian pesan yang ingin ditegaskan Gus Rijal Mahfudz dalam menyikapi perkembangan AI di dunia pendidikan.

Menyiapkan kader untuk mengawal kebijakan AI

Sebagai bentuk keseriusan menghadapi tantangan tersebut, PELITA NUSANTARA telah menyiapkan kader-kader potensial untuk melakukan kajian menyeluruh terhadap kebijakan penggunaan AI dalam dunia pendidikan. Kajian ini diharapkan tidak berhenti pada pembahasan teknis mengenai penggunaan teknologi, tetapi juga mencakup dimensi etika, pedagogi, kebijakan publik, pemerataan akses, perlindungan data, serta penguatan karakter peserta didik.

PELITA NUSANTARA memandang bahwa pertanyaan mengenai AI dalam pendidikan tidak cukup dijawab dengan apakah teknologi tersebut dapat digunakan atau tidak. Hal yang lebih mendasar adalah bagaimana teknologi digunakan, siapa yang memperoleh manfaat, risiko apa yang harus diantisipasi, dan nilai-nilai apa yang harus tetap menjadi pijakan dalam proses pendidikan.

Dalam konteks pendidikan Islam, kecerdasan buatan semestinya menjadi instrumen untuk memperkuat proses pembelajaran, bukan menggantikan seluruh dimensi pendidikan yang bertumpu pada keteladanan, relasi kemanusiaan, pembentukan akhlak, dan tanggung jawab moral.

“Teknologi boleh semakin cerdas, tetapi pendidikan tidak boleh kehilangan kebijaksanaan. AI dapat membantu manusia mengolah informasi, tetapi pembentukan akhlak, keteladanan, tanggung jawab, dan kebijaksanaan tidak boleh diserahkan begitu saja kepada mesin. Tantangan kita bukan menolak teknologi, melainkan memastikan bahwa teknologi tidak mengambil alih tujuan pendidikan itu sendiri.” demikian gagasan yang menjadi landasan sikap PELITA NUSANTARA.

NGOPI: ruang dialog pendidikan Islam dan masa depan AI

Komitmen tersebut akan memperoleh ruang pembahasan melalui kegiatan NGOPI (Ngobrol Pendidikan Islam) yang dijadwalkan berlangsung pada Sabtu, 31 Oktober 2026, bersama anggota DPR RI Komisi VIII, Hj. Dini Rahmania, S.IAN., M.M.

Forum ini akan mengangkat tema pendidikan Islam dan kecerdasan buatan, dengan perhatian pada tantangan, peluang, serta arah kebijakan yang diperlukan agar pemanfaatan teknologi dapat mendukung peningkatan kualitas pendidikan.

Kehadiran perspektif legislatif dalam forum ini menjadi kesempatan untuk mempertemukan pengalaman dan gagasan kader dengan pembahasan kebijakan publik. Pendidikan Islam membutuhkan ruang dialog yang terbuka antara masyarakat, pendidik, organisasi, pemangku kebijakan, dan berbagai pihak yang memiliki perhatian terhadap masa depan pendidikan Indonesia.

Melalui NGOPI, PELITA NUSANTARA ingin mendorong agar diskusi tentang AI tidak berhenti pada euforia kecanggihan teknologi. Perlu ada pembahasan yang lebih mendalam mengenai kesiapan pendidik, kemampuan peserta didik berpikir kritis, etika penggunaan AI, kesenjangan digital, serta tanggung jawab negara dalam memastikan pemanfaatan teknologi berlangsung secara adil dan terarah.

Bagi PELITA NUSANTARA, pendidikan Islam harus mampu berdiri tegak di tengah perubahan zaman: terbuka terhadap inovasi, tetapi tidak kehilangan prinsip; adaptif terhadap teknologi, tetapi tetap kritis terhadap dampaknya.

Peluncuran website sebagai langkah transformasi organisasi

Peluncuran website PELITA NUSANTARA pada 31 Oktober 2026 juga menjadi bagian dari upaya memperkuat transformasi organisasi di era digital. Website diharapkan menjadi sarana informasi, publikasi gagasan, dokumentasi kegiatan, dan pengembangan komunikasi organisasi yang lebih terbuka serta mudah diakses.

Kehadiran platform digital tersebut bukan sekadar pembaruan sarana komunikasi, melainkan bagian dari ikhtiar membangun organisasi yang lebih adaptif, produktif, dan mampu merespons perkembangan zaman.

Gus Rijal Mahfudz menegaskan bahwa masa depan organisasi tidak cukup ditentukan oleh kemampuan mengikuti tren teknologi. Lebih dari itu, organisasi harus memiliki kapasitas untuk menghasilkan gagasan, menyiapkan kader yang kompeten, serta mengambil peran dalam menjawab persoalan masyarakat.

“PELITA NUSANTARA ingin memastikan bahwa kader-kader kita tidak gagap menghadapi perubahan, tetapi juga tidak kehilangan sikap kritis di hadapannya. Kita harus mampu membaca teknologi, mengkaji kebijakannya, dan memperjuangkan agar kemajuan digital benar-benar memperkuat kualitas pendidikan serta martabat manusia.”

Dengan peluncuran website dan penyelenggaraan NGOPI, PELITA NUSANTARA menempatkan transformasi digital sebagai momentum untuk memperkuat peran organisasi dalam percakapan publik mengenai pendidikan.

Di tengah perkembangan AI yang semakin pesat, pertaruhan pendidikan Islam bukan semata-mata tentang siapa yang paling cepat mengadopsi teknologi. Pertaruhan yang sesungguhnya adalah siapa yang mampu memastikan bahwa kemajuan teknologi tetap berjalan seiring dengan penguatan ilmu, akhlak, keadilan, dan kemanusiaan.

PELITA NUSANTARA menegaskan kesiapannya untuk mengambil bagian dalam ikhtiar tersebut: bukan hanya mengikuti perubahan, tetapi ikut mengawal arah masa depan pendidikan Islam.